Monday, 4 June 2012

‎"Bimbinglah aku ke Surga-Nya wahai suamiku"


Saat diriku rela pergi bersama dirimu,
kutinggalkan orang tua dan sanak saudaraku,
ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan
hatiku. Naungilah diriku dengan kasih
sayang, dan senyuman darimu.

Ku ingat pula
saat aku ragu memilih siapa pendampingku,
ketakwaan yang terlihat dalam kehidupan
seharianmulah yang mempesona diriku.
Bukankah sahabat Rasulullah Shallallaahu
‘Alaihi Wa Sallam, 'Ali bin Abi Thaalib saat
ditanya oleh seorang, “Sesungguhnya aku
mempunyai seorang anak perempuan,
dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan
dia?” Ali pun menjawab, “Kawinkanlah dia
dengan lelaki yang bertakwa kepada Allaah,
sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia
akan memuliakannya, dan jika ia tidak
menyukainya maka dia tidak akan
menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki
itu,

duhai suamiku.
Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku
lakukan, mungkin saat itu engkau
mendambakan diriku sebagai isteri tanpa
kekurangan dan kelemahan, sedarlah,
sesungguhnya egois telah menguasai dirimu.
Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah
lembut, janganlah kasar terhadapku.
Bukankah Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa
Sallam telah mengajarkan kepada dirimu,
saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada
beliau tentang tanggungjawab suami
terhadap isteri, beliaupun menjawab, “Dia
memberinya makan ketika ia makan, dan
memberinya pakaian ketika dia berpakaian.”
Janganlah engkau keras terhadapku, karena
Rasulullaah Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam
pun tak pernah berbuat kasar terhadap
isteri-isterinya.

Duhai Suamiku…
Tahukah engkau anugerah yang akan engkau
terima dari Allah di akhirat kelak?
Tahukah engkau pula balasan yang akan
dianugerahkan kepada suami-suami yang
berlaku baik terhadap isteri-isteri mereka?
Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku
adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di
singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka
adalah orang yang berlaku adil ketika
menghukum, dan adil terhadap istri-istri
mereka serta orang-orang yang menjadi
tanggungjawabnya.” [Hadits Riwayat
Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang
kelak salah satu yang menempati singgasana
tersebut, dan aku adalah permaisuri di
istanamu.
Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku
dengan ilmu yang telah Allaah berikan
kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka
biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan
kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak
diriku dapat menjadi sekolah buat putera-
puetrimu. Bukankah seorang ibu adalah
madrasah ilmu pertama buat putera-
puterinya? Semoga engkau selalu
mendampingiku dalam mendidik putera-
puteri kita dan bertakwa kepada Allah.

Wahai Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini…Aku telah
jatuh cinta kepada lelaki pasangan hidup
ku,jadikanlah cinta ku pada suamiku ini
sebagai penambah kekuatan ku untuk
mencintai-Mu.Namun, kumohon pula,
jagalah cintaku ini agar tidak melebihi
cintaku kepada-Mu,hingga aku tidak terjatuh
pada jurang cinta yang semu,jagalah hatiku
padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Jika ia rindu,jadikanlah rindu syahid di jalan-
Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya
terhadapku,jadikan pula kerinduan
terhadapku tidak melupakan kerinduannya
terhadap surga-Mu.Bila cintaku padanya
telah mengalahkan cintaku kepada-
Mu,ingatkanlah diriku, jangan Engkau
biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai
merengkuh cinta-Mu.

Ya Allaah,Engkau mengetahui bahwa hati-
hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-
Mu,telah berjumpa pada taat pada-Mu,telah
bersatu dalam dakwah pada-Mu,telah
berpadu dalam membela syariat-
Mu.Kokohkanlah ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.Tunjukilah jalan-
jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-
Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan
limpahan keimanan kepada-Mu dan
keindahan bertawakal di jalan-Mu.Aamin yaa
Rabbal 'aalamiin.


No comments:

Post a Comment